Jumat, 21 Juni 2013

Membenci yang Baik

".....Padahal, barangkali kalian membenci sesuatu padahal hal itu baik bagi kalian dan barangkali kalian menyukai sesuatu padahal hal itu buruk bagi kalian. Dan Alloh mengetahui sedang kalian tidak mengetahui." [QS. Al-Baqarah ; 216]

Mayoritas kebaikan bagi manusia ada pada perkara yang mereka benci. Sebagaimana, mayoritas kemudharatan bagi mereka ada pada perkara yang mereka cintai. Hal ini tidak lain karena keterbatasan manusia yang diciptakan secara asal 'zhaluman jahula', sangat zalim lagi sangat bodoh. Ya, manusia diciptakan sangat bodoh hingga terkadang tidak mengetahui mana yang bermanfaat bagi dirinya.




Seorang ayah mencekoki anaknya agar lahap makan di usia pertumbuhannya, meski si anak meronta dan menangis menolaknya. Seorang ayah juga melarang anaknya agar aman dari marabahaya meski hal itu disukai anaknya. Inilah kesempurnaan kasih sayang ayah kepada anaknya, memerintahkan apa yang anak benci dan melarangnya dari bahaya demi kemaslahatan si anak.

Alloh adalah Maha Pengasih dan Penyayang kepada Hamba-Nya, yang Maha Mengetahui kebaikan hamba-Nya, yang Maha Bijaksana dalam semua aturan-Nya. Karena rahmat Alloh kepada kita lah, Alloh mengatur kita, memerintahkan yang wajib dan melarang yang haram. Karena, Alloh menginginkan kebaikan pada diri kita.


Maka, seorang yang pandai tidak akan menyerahkan kebaikan dirinya kepada akalnya semata. Dia tahu bahwa aturan Alloh pasti berisi kebaikan dan tidak mungkin berisi kebatilan. Dia pun menyerahkan dirinya kepada aturan Alloh demi kemaslahatan dirinya. Dia tahu, tidak pantas dirinya menuduh Alloh tidak adil dalam menetapkan hukum. Apalagi malah mengakali (baca : mengkritik dengan timbangan akal) hukum syariat. Allohu a'lam bish-showwab.

[Al-Fawaid, karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah]


sumber : majalah Tashfiyah ed. 04/1432/2011