Tampilkan postingan dengan label baitii jannatii. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baitii jannatii. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

Perbedaan Mani Laki-laki dan Wanita

tanya :
Apakah wanita juga keluar mani sebagaimana halnya laki-laki? Bila ya, bagaimana ciri-cirinya? Dan apa yang harus dilakukan?
(Ummu Fulan di Bumi Allah)




jawab :

Wanita juga keluar mani sebagaimana laki-laki. Dengan mani itu, muncul sifat identik sang anak, apakah memiliki kemiripan dengan ayah atau dengan ibunya. Ketika ditanyakan hal ini kepada Rasulullah, beliau berkata,
"Iya, darimana adanya persamaan anak (dengan ayah atau ibunya kalaupun bukan karena mani tersebut)?"  [Shahih, HR. Muslim no.310]

Kamis, 09 April 2015

Meminta Pendapat Perempuan dalam Perkawinannya

Yang dimaksud dengan meminta pendapat perempuan dalam perkawinannya adalah tidak keluar dari 3 jenis perempuan, yaitu gadis kecil (muda), baligh (cukup umur/dewasa), ataupun bagi janda (sudah pernah menikah). Dari setiap individu ini, masing-masing mempunyai tata cara (hukum) sendiri-sendiri.

1. GADIS MUDA
Tidak terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama berkaitan tentang permintaan persetujuan dari seorang gadis muda yang akan dinikahkan. Ayahnyalah yang memiliki hak untuk mengawinkan tanpa meminta persetujuan darinya. Dan gadis muda tidak memiliki hak mengizinkan perkawinan. Sebab Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallohu 'anhu menikahkan putrinya, 'Aisyah dengan Rasulullah shalallohu 'alaihi wasallam pada umur 6 tahun dan digauli oleh Rasulullah pada umur 9 tahun (HR. Bukhari-Muslim).

Selasa, 24 Maret 2015

Agar Bahtera Selamat Sampai Tujuan - part 3

Tidaklah yang dimaksudkan dengan mencintai istri adalah membiasakan istri hidup sebagai "nyonya besar" yang hanya bisa memerintah dan bermalas-malasan. Wanita yang menghabiskan siangnya dengan tidur dan di malam hari begadang, pindah dari satu restoran ke restoran lain, nongkrong di cafe, melancong dari satu tempat ke tempat lain, shopping atau sekedar jalan-jalan ke mall, tidak pernah masak, tidak pernah membersihkan rumah, tidak ada perhatian terhadap suami dan anak-anak, serta tidak peduli dengan keadaan rumah. Kalau seperti ini keadaan seorang istri, lalu untuk apa seseorang menikah? Apa sekedar simbol saja bahwa ia sudah berstatus menikah?


Suami memikul tanggung jawab yang besar apabila membiasakan atau membiarkan istrinya berada di atas jalan yang jelek tersebut, kelak ia akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Maka dari itu, sebelum semuanya terlambat hendaknya ia "membenahi" istrinya.

Jadi, cinta tidak berarti memanjakan istri dengan dunia dan mempersilahkannya berbuat semaunya. Tetapi cinta adalah membimbing tangannya dan mengarahkannya kepada kebaikan dengan penuh kelembutan.

Suami tidak boleh menganggap enteng apabila istrinya berbuat dosa atau melakukan sesuatu yang tercela dalam kebiasaan manusia. Jangan ia berdalih dengan kata "kasihan" untuk memperingatkan istrinya dari perbuatan salah atau menyimpang. Bahkan, apabila perlu, ia memberikan hukuman yang mendidik.

Kamis, 19 Maret 2015

Agar Bahtera Selamat Sampai Tujuan - part 2

Istri shalehah adalah yang tahu besarnya kadar suaminya dan besarnya hak suami terhadap dirinya. Oleh karena itu, ia tidak henti-hentinya mencurahkan upaya guna memberikan kelapangan dan kebahagiaan bagi suaminya.
Renungkanlah sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam,
"Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadapnya." [HR. Ahmad 4/381, dinyatakan shahih dalam Irwa'ul Ghalil no.1998 dan ash-Shahihah no.3366]




Selasa, 17 Maret 2015

Agar Bahtera Selamat Sampai Tujuan - part 1

Rumah tangga yang dibina bisa saja kandas di tengah jalan apabila suami istri tidak pandai mengantisipasi problem yang muncul menghadang perjalanannya.
Karena problem pasti akan datang, tinggal setiap pihak perlu tahu perkara apa saja yang dapat memicunya, yang dapat merusak hubungan keduanya, dan bagaimana sikap yang tepat saat ada masalah.

Membanding-bandingkan keadaan diri atau pasangan hidup dengan orang lain termasuk sebab terbesar yang merusak kehidupan rumah tangga. Bisa jadi, sikap ini datang dari pihak suami. Tergambar pada dirinya sosok wanita lain yang punya kelebihan yang tidak didapatkan pada istrinya. Padahal apabila ia melihat hakikatnya, bisa jadi ia dapati istrinya memiliki sifat-sifat yang puluhan wanita tidak mampu memilikinya.

Akan tetapi, memang jiwa itu selalu berhasrat untuk beroleh sesuatu yang jauh, yang dalam anggapannya terkumpul berbagai sifat kebagusan yang tidak ada pada apa yang telah dimilikinya. 

Ibarat rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Kenyataannya, tidak lain hanya fatamorgana.

Rabu, 14 Januari 2015

Berhati-hati Terhadap Fitnah Anak

Anak-anak adalah fitnah/cobaan. Allah ta'ala berfirman :
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu." [QS. At-Taghabun;15]

Rezeki berupa anak yang Allah berikan kepada seorang hamba terkadang malah menjatuhkan hamba tersebut ke dalam sikap berbangga-bangga dengan anak dihadapan orang lain, dan tidak mensyukuri nikmat Allah itu. Dia membanggakan diri atas orang lain dengan anaknya yang banyak, merasa diri lebih baik daripada mereka, merasa sombong dan berlaku dzalim, yang pada akhirnya menjerumuskannya ke dalam neraka. Kita berlindung kepada Allah dari semua itu.


Sabtu, 03 Januari 2015

NAZHOR, Apa dan Bagaimana ?!

"Lihatlah kepadanya. Sungguh hal itu akan lebih pantas untuk melanggengkan hubungan kalian berdua."


Hadits yang agung ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1/202), Ibnu Majah (1866), An Nasa'i (2/73), dan yang lainnya.Hadits ini disebutkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitab As Silsilah Ash Shahihah 1/150.
Hadits diatas diriwayatkan dari shahabat Al Mughirah bin Syu'bah radhiyallohu 'anhu. Rasulullah sholallohu 'alaihi wasallam menasehati beliau ketika ingin mengkhitbah seorang wanita.

Menjadi tabiat manusia, bahwa ia akan merasa senang dan tenang kepada orang yang menarik hatinya. Bahkan, kesalahan atau sikap yang kurang berkenan pun akan mudah ditoleransi karena besarnya cinta dalam hati. Sebatas hal ini, selama bukan kesalahan yang sifatnya syar'i, tidak menjadi masalah. Dan justri di sinilah ujian bagi seseorang nantinya. Siapakah yang lebih dia cintai untuk diutamakan. Allah ta'ala dan Rasul-Nya atau selain keduanya. 


Minggu, 30 November 2014

Untukmu Wahai Ayah dan Ibu...

UNTUKMU WAHAI AYAH...
Janganlah anda melarang istri di depan anak-anak. Bila anda hendak menasehati istri, sebaiknya anda lakukan empat mata agar kehormatan dan kewibawaannya tidak jatuh didepan anak-anak. Karena bisa jadi, anak-anak akan mendurhakai ibunya sewaktu anda tidak di rumah. Nasehat dan hukuman yang diberikan kepada istri tanpa sepengetahuan anak, berarti menutup aib istri.

Nabi shalallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Alloh akan menutupi aibnya didunia dan akhirat." [HR. Muslim dari Abu Hurairah]

Bila anda memukul istri dan menghardiknya di depan anak-anak maka akan memperburuk keadaan rumah dan penghuninya. Karena di antara anak-anak ada yang sedih melihat ibunya dipukul. Akibatnya dia akan sangat membenci ayahnya. Sebaliknya ada juga anak yang menjadikan perbuatan ayahnya sebagai senjata untuk menakut-nakuti  ibunya. Dan ini akan mengacaukan kehidupan rumah tangga.

Kamis, 27 November 2014

Saat Suami Menikah Lagi,



Para wanita calon penghuni surga, wanita yang paling mulia dan utama, istri dari manusia yang paling mulia dan utama. Merekalah ummahatul mukminin, teladan setiap wanita pecinta akhirat. Gambaran akhlak mereka kala suami tercinta menjadi "pengantin baru" bisa kita lihat dari hadits berikut ini,

Anas radhiyallahu 'anhu menceritakan,
"Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengadakan walimah saat pernikahannya dengan Zainab bintu Jahsy radhiyallahu 'anha. Beliau mengenyangkan orang-orang yang hadirs dengan roti dan daging. Kemudian beliau keluar menuju bilik-bilik ummahatul mukminin sebagaimana kebiasaan beliau di pagi hari dari malam pengantin beliau. Beliau mengucapkan salam kepada mereka dan mendoakan mereka. Para istri beliau pun membalas salam beliau dan mendoakan kebaikan untuk beliau..." [HR. Bukhari no.4794]

Kamis, 05 Juni 2014

Warisan bagi Istri yang Ditalak

tanya :
Seorang istri ditalak dan masih dalam masa 'iddah. Suaminya meninggal. Apakah istri mendapatkan harta warisan?


jawab :
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab,
Jika talaknya adalah talak raj'i dan suami meninggal sebelum istri keluar dari masa 'iddah, istri mendapatkan warisan sesuai dengan bagiannya menurut syariat.

Rabu, 28 Mei 2014

Jangan Mudah Meminta Cerai

Ikatan suami istri merupakan pertalian yang tidak ada duanya dan tidak ada yang menyamainya. Karena kedua belah pihak masing-masing leluasa tanpa batas melihat diri pasangannya. Ibarat mereka adalah dua jiwa yang seolah melebur jadi satu, yang hal ini tidak didapatkan dalam hubungan yang lain. Karenanya, memang tepat bila dikatakan, tidak ada hubungan yang dapat menandingi hubungan pernikahan.


Dalam jalinan pernikahan, terlihat dengan jelas fisik dan akhlak kedua belah pihak oleh pasangannya tanpa bisa ditutup-tutupi. Semua ini pada akhirnya dapat mengantarkan kepada rasa cinta atau bahkan sebaliknya muncul rasa tidak suka. Keduanya pada akhirnya semakin lekat atau justru menjauh. Berdasar rasa tersebut, timbul keinginan kuat untuk tetap menjaga kelanggengan hubungan nikah atau sebaliknya, terbetik keinginan untuk mengakhirinya.
Namun perlu dicamkan, mempertahankan sebuah pernikahan merupakan perkara yang diharapkan oleh syariat. Karena menguraikannya bisa berdampak banyak madharat.

Kamis, 08 Mei 2014

Izinmu kepada Suamimu, Jalan Menggapai Ridha Rabb-mu

Islam menghendaki keharmonisan hubungan suami istri. Keluarga, yang merupakan elemen masyarakat terkecil, benar-benar dijaga dalam Islam agar terhindar dari keretakan dan kerusakan. Penetapan hak suami atas istrinya dan sebaliknya merupakan bagian dari upaya penjagaan tersebut. Tanpa hal itu, niscaya kehidupan suami istri akan berantakan dan kacau balau, apalagi ketika hawa nafsu dan egoisme menguasai. Masing-masing akan berjalan menuruti kemauannya sendiri sehingga bahtera yang telah dibina pun oleng dan berujung dengan kehancuran.

Fokus pembahasan kali ini adalah kewajiban istri untuk meminta izin suami. Dalam urusan apa sajakah syariat menetapkan kewajiban ini?! Pembaca, kami persilahkan anda menelusuri bahasan berikut.


Selasa, 04 Maret 2014

Kiat Memperlakukan Buah Hati


1. Pahami anak sebagai individu yang berbeda. Seorang anak dengan anak yang lainnya memiliki karakter yang berbeda. Memiliki bakat dan minat yang berbeda pula. Karenanya, dalam menyerap ilmu dan mengamalkannya, berbeda satu dengan yang lainnya.
Sering terjadi kasus, terutama pada pasangan muda, orangtua mengalami 'sindroma' anak pertama. Karena didorong idealisme yang tinggi, mereka memperlakukan anak tanpa memperhatikan aspek-aspek perkembangan dan pertumbuhan anak. Misal, anak dipompa untuk bisa menulis dan membaca pada usia 2 tahun, tanpa memperhatikan tingkat kemampuan dan motorik halus (kemampuan mengoordinasikan gerakan tangan) anak.
"Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu." [QS. At-Taghabun; 16]

"Apabila aku melarangmu dari sesuatu, maka jauhi dia. Bila aku perintahkan kamu suatu perkara, maka tunaikanlah semampumu." [HR. Bukhari  no. 7288 dari Abu Hurairah radhiyallohu 'anhu]

Kata "semampumu" menunjukkan kemampuan dan kesanggupan seseorang berbeda-beda, bertingkat-tingkat, satu dengan yang lainnya tidak bisa disamakan. Ini semua karena pengaruh berbagai macam latar belakang.

Kamis, 20 Februari 2014

Aqiqah Janin yang Gugur dan Bayi yang Meninggal

tanya :
Janin yang gugur dari kandungan yang telah jelas bahwa dia laki-laki atau perempuan, apakah di-aqiqahi atau tidak? Demikian juga bayi yang terlahir apabila meninggal beberapa hari setelah kelahiran sementara belum di-aqiqahi saat dia hidup, apakah di-aqiqahi setelah kematiannya atau tidak? Apabila telah lewat satu bulan, dua bulan, setengah tahun, satu tahun, atau bahkan lebih dari saat lahirnya bayi dan ia belum di-aqiqahi, apakah di-aqiqahi ataukah tidak?

jawab :

Mayoritas para ulama berpendapat bahwa aqiqah adalah sunnah, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, dan Ashhabus Sunan dari Salman bin Amir, dari Nabi sholallohu 'alaihi wasallam,
"Bersama seorang anak itu aqiqahnya, maka tumpahkanlah darah untuk (aqiqahnya) dan hilangkanlah rambut (kepalanya)."

Senin, 10 Februari 2014

Hukum Wanita yang Ditalak

Wanita yang Ditalak Raj'i
Wanita yang ditalak Raj'i (talak 1 dan talak 2) masih berlaku hukum-hukum istri atasnya.
Dalilnya adalah firman Allah,
"Dan suami-suaminya lebih berhak merujuknya dalam masa 'iddah itu, jika mereka (para suami) menghendaki perbaikan." [QS. Al-Baqarah; 228]



Pada ayat ini, Allah menamakan suami yang telah menalak istrinya dengan talak raj'i sebagai suami yang berhak merujuknya. Ini menunjukkan bahwa wanita yang ditalak raj'i adalah istri yang berlaku atasnya hukum-hukum istri yang tidak ditalak.

Minggu, 05 Januari 2014

di Hari Ketujuh Usiamu

Kini..., rumah tak lagi sepi.
Tangisan sang buah hati mulai menghiasi.




Sepasang suami istri kini menjalani peran sebagai orangtua. Kesibukan yang penuh kebahagiaan bersama si kecil menjadi aktivitas sehari-hari.


Waktu terus berjalan, tentu para orangtua tak mau menyia-nyiakan. Setiap saat ingin memberikan yang terbaik bagi permata hati mereka. Mulai dari mencurahkan perhatian dan kasih sayang sampai memenuhi segala kebutuhan mereka. Bahkan dalam masyarakat kita, tak sedikit yang menjalankan berbagai macam ritual semenjak si kecil lahir. Dengan keyakinan, semua itu berakibat baik bagi kelangsungan hidupnya. Namun sebagai seorang Islam, tak pantas bagi kita memiliki pilihan lain selain syariat ini dalam menjalani seluruh aspek kehidupan, termasuk apa yang kita berikan kepada anak-anak.


Jumat, 03 Januari 2014

Ada Apa dengan CINTA ?!

Segala puji bagi Allah yang memberikan taufik kepada kita untuk mencintai dan menghamba kepada-Nya. Dengan mahabbah (cinta), khauf (takut), dan roja' (mengharap), kita beribadah kepada Allah. Maha Pengasih Allah yang menciptakan kita memiliki tabiat untuk mencintai. Oleh karena itu, orangtua sangat mencintai dan mengasihi anaknya, seorang anak mencintai dan menghormati kedua orangtuanya, dan sepasang suami istri saling mencintai dan menyayangi. Dengan cinta, kehidupan ini menjadi sangat indah.

Namun, sangat disayangkan, cinta yang dipahami oleh banyak remaja muslim sebatas cinta antara sepasang remaja yang sedang dimabuk asmara, atau cinta seorang remaja yang duduk di bangku sekolah tingkat menengah kepada seorang gadis yang masih satu sekolah dengannya, atau makna cinta yang tidak jauh dari itu.



Senin, 09 Desember 2013

Wasiat bagi Istri yang Mendambakan Keluarga Bahagia

Berikut ini sepuluh wasiat untuk wanita, istri dan ibu dari anak-anak, yang ingin menjadikan rumahnya sebagai pondok yang tenang dan tempat nan aman, yang dipenuhi cinta dan kasih sayang, ketenangan dan kelembutan.


Wasiat Pertama : Taqwa kepada Alloh dan menjauhi maksiat

Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah kepada Alloh !!!
Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncangkan kerajaan. Maka janganlah engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Alloh dan jangan engkau seperti Fulanah yang telah bermaksiat kepada Alloh..., maka ia berkata dengan menyesal penuh tangis setelah dicerai oleh sang suami, "Ketaatan menyatukan kami dan maksiat menceraikan kami..."

Sabtu, 07 Desember 2013

AIBmu AIBku

Tak ada gading yang tak retak, begitulah kata pepatah. Semua orang pasti punya aib. Baik pada fisik, maupun kisah hidup yang pernah dilalui. Tak terkecuali pada diri dan pasangan kita. Untuk yang satu ini, kita harus ekstra hati-hati dalam menutupnya.



Layaknya roda yang berputar, kehidupan suami istri tak selalu diatas. Ada saatnya berada dibawah, hingga terasa cinta pun menyurut. Saat-saat seperti itu, kesal dan benci kepada pasangan seakan memenuhi dada. Kalau sudah seperti ini, kejelekan pasangan begitu mudah keluar melalui lisan. Tersampaikan kepada teman curhat, keluarga atau tetangga.

Kamis, 05 Desember 2013

Fatwa Seputar Poligami

tanya :
Seorang suami memiliki dua istri. Ia membagi diantara keduanya dalam segala sesuatu, hanya saja ia lebih condong kepada salah satunya dalam hal perasaan/cinta dan mabit (bermalam).
Apa pendapat anda apabila si suami selesai menunaikan hajatnya dari seorang istri kemudian ia keluar dari kamar/rumah si istri untuk tidur di rumah istri yang lebih ia cintai? Alasan lainnya, istri yang kurang dicintai itu memiliki beberapa anak kecil yang suka berisik/ramai (sehingga mengganggu istirahatnya), sedangkan pekerjaannya menuntutnya harus bangun dini hari. Apakah ia berdosa jika berbuat demikian? Kemudian, apa pendapat anda apabila suami tersebut bermalam di rumah istri yang lebih dicintainya selama dua malam, kemudian di malam yang ketiga baru ia ke rumah istri yang lain?